Nike dan Adidas Babak Belur

Nike dan Adidas Babak Belur

Nike dan Adidas Babak Belur

Nike dan Adidas Babak Belur – Tak hanya buyer Adidas, produsen sepatu merek Nike di Indonesia, PT Victory Chingluh Indonesia (Chingluh) juga melakukan PHK kepada 4.985 karyawannya. Hal itu dilakukan tak lepas dari imbas pandemi virus corona (Covid-19).

Pandemi Corona menghantam perekonomian berbagai negara, lini bisnis pun babak belur dibuatnya. Bahkan, perusahaan sekelas Nike, yang merupakan merek top di industri ritel global ikut keok menerima pukulan pandemi ini.

PT Shyang Yao Fung, produsen sepatu merek Adidas di Indonesia melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)kepada karyawannya. Informasi itu disampaikan oleh Direktur Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Kementerian Ketenagakerjaan John Daniel Saragih.

Namun, berdasarkan informasi yang ia terima, masalah PHK tersebut sudah diselesaikan dengan difasilitasi oleh Dinas Ketenagakerjaan Kota Tangerang.

“Karena mereka bisa selesaikan sendiri. Kalau tidak salah Shyang itu dibayarkan dua kali pesangon,” katanya.

Sebelumnya, Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) membenarkan jika Shyang Yao Fung melakukan PHK. Perusahaan beralasan keputusan PHK karena rencana relokasi pabrik dari Tangerang, Banten ke Brebes, Jawa Tengah.

Pabrik sepatu asal Portland Amerika Serikat (AS) itu melaporkan kerugian bersih yang tak terduga pada kuartal pertama 2020.

Nike mencatat penjualan anjlok sebesar 38% dari tahun sebelumnya. Hal ini disebut terjadi karena mereka dirugikan oleh gerai resmi yang tutup sementara, baik di AS maupun seluruh dunia karena kekhawatiran Corona. Di sisi lain, pendapatan online ternyata keuntungannya tak seberapa.

Belum lagi persediaan barang Nike menumpuk, hal ini membebani laba mereka. Hal itu juga diperburuk dengan mitra grosir seperti pusat perbelanjaan yang juga belum dibuka secara penuh, mereka hanya menerima lebih sedikit pesanan untuk sepatu dan pakaian.

Nike mencatat pendapatannya turun 38% menjadi US$ 6,31 miliar atau berkisar Rp 88,3 triliun (salam kurs Rp 14 ribu). Sebelumnya mereka memiliki pendapatan sebesar US$ 10,18 miliar alias Rp 142,52 triliun setahun yang lalu.

Sementara itu, saham Nike pun baru-baru ini tercatat merosot hingga 4%. Mereka melaporkan telah mengalami kerugian US$ 790 juta di pasar saham atau sekitar Rp 11,06 triliun. Jumlah itu sekitar US$ 51 sen per saham, selama periode yang berakhir 31 Mei.

Padahal tahun lalu mereka berhasil sukses dengan laba bersih US$ 989 juta atau berkisar Rp 13,84 triliun, atau untung US$ 62 sen per saham.

Secara penjualan, Nike mencatat penurunan di Amerika Utara hingga 46%. Sementara penjualan di China turun hanya 3%, dengan banyak toko Nike di wilayah itu dibuka kembali lebih cepat selama pandemi daripada di AS. Bila dirinci, penjualan sepatu Nike turun 35%, pakaian jadi turun 42%, dan pendapatan peralatan olahraga juga turun 53%.

Pada hari Kamis, Nike sendiri mengatakan sekitar 90% dari toko yang dimilikinya akan kembali dibuka. Khusus di China, hampir semua toko miliknya dibuka kembali, sementara itu 85% toko mulai dibuka lagi di AS.

Kabar baiknya, penjualan digital Nike melonjak 75% dan mewakili sekitar 30% dari total pendapatan sementara.

Sebelumnya, Nike telah menetapkan tujuan untuk mencapai 30% penetrasi pasar digital pada tahun 2023, tetapi rencana itu nampaknya dipercepat karena pandemi. Kini, perusahaan akan menargetkan penjualan e-commerce bisa mencakup 50% dari keseluruhan penjualan.

Meski begitu, nyatanya penjualan online belum begitu menguntungkan. Dalam satu pengiriman dan pengembalian barang masih memberi tekanan lebih besar pada keuntungan perusahaan.

Ketua Gabungan Serikat Buruh Indonesia Chingluh Wandi mengatakan PHK tersebut rata-rata menyasar karyawan dengan masa kerja tiga bulan atau percobaan serta karyawan tetap dengan masa kerja di bawah satu tahun.

“Itu data per tanggal 20 Mei kemarin. Pertama, itu Maret dan April untuk yang masa percobaan 3 bulan. Kedua per tanggal 20 kemarin,” ujarnya.

Menurutnya, PHK ini merupakan yang terbesar sejak pabrik itu berdiri. Namun, perusahaan berjanji akan memprioritaskan pekerja yang di-PHK untuk kembali bekerja jika ada lagi rekrutmen ulang setelah kondisi perusahaan stabil akibat Covid-19.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *